Sebut saja namanya Renata, bisa dipanggil rena. Siswi kelas 5 ini jika dilihat dari penampilannya baik dan penuh hormat. Tapu memang sejah pertama kali bertemu ada yang berbeda dengan anak ini. Tidak seperti teman-temannya yang lain, anak ini cenderung pendiam, tidak terlalu mau banyak berbicara.
Menurut orang tuanya rena memang anak yang pendiam. Kondisi kedua orang tua yang sibuk bekerja bisa jadi menjadi salah satu faktor yang menyebabkan dia pendiam. Kurangnya interaksi dan komunikasi diatara orang tua dan anak membuat rena tidak pandai menunjukan kesukaan atau ketidak sukaan kepada seseorang atau sesuatu. Komunikasi antara orang tua dan anak ini menjadi kunci agar mereka selalu terlatih untuk berbicara atau mengungkapkan sesuatu.
Menurut Yusuf (2004: 120-122), ada beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak. Pertama yaitu kesehatan. Faktor ini sangat berpengaruh kepada perkembangan bahasa anak karena kesehatan sangatlah menentukan kondisi dan perkembangan anak. Faktor kedua yaitu intelligence atau kecerdasan. Anak yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi biasanya memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik dan lebih cepat. Rasa ingin tahu mereka tinggi sehingga mereka sering banyak bertanya. Selain itu, pengetahuan yang mereka miliki lebih dari anak yang memiliki tingkat kecerdasan rendah sehingga dapat dikatakan jika mereka sering menyampaikan pendapat/ide maupun informasi kepada lawan bicaranya. Faktor ketiga adalah status sosial ekonomi keluarga. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa status sosial ekonomi keluarga menentukan perkembangan bahasa anak usia dini. Anak yang berasal dari keluarga yang memiliki kondisi ekonomi lebih baik cenderung menyediakan fasilitas yang lebih untuk perkembangan bahasa anaknya, misalnya dengan membelikan boneka/robot yang dapat berbicara, buku-buku bacaan, CD/video, dan lain-lain. Faktor keempat adalah jenis kelamin. Berdasarkan jenis kelaminnya, anak perempuan memiliki kemampuan bahasa yang lebih baik dan lebih cepat dibandingkan dengan anak laki-laki. Untuk itu, seorang ibu yang memiliki anak laki-laki seharusnya tidak begitu mengkhawatirkan perkembangan bahasa anaknya karena hal ini wajar dan banyak dialami oleh anak laki-laki lainnya. Dan faktor terakhir adalah hubungan keluarga. Kedekatan anak dengan orang tua atau keluarga sangat menentukan kualitas perkembangan bahasa anak. Ketika keluarga memberikan kasih sayang yang cukup dan anak merasa senang atau nyaman dalam lingkungan tersebut, maka komunikasi akan sering terjalin dan anak akan mencapai kelancaran berbahasa lebih cepat. Sebaliknya, jika hubungan anak dan orang tua atau keluarga kurang dekat atau kurang sehat, maka anak akan sering mengalami problem seperti lambat bicaranya, gagap, kata-katanya tidak jelas, serta malu atau bahkan takut untuk berkomunikasi meskipun itu dengan keluarga sendiri.
Sedangkan menurut Fitria (2019) mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan anak pemalu yang bisa dijelaskan sebagai berikut:
-
- Pola asuh orang tua
Pola asuh orang tua yang cenderung over protektif, selalu mengekang, sering melarang anak karena terlalu khawatir tanpa disadari akan membatasi ruang gerak anak dan membatasi kesempatan belajar anak untuk bereksplorasi sehingga anak cenderung akan berkepribadian tertutup.
-
- Proses belajar dari perilaku orang tua
Orang tua yang memiliki kepribadian tertutup, pemalu suka menutup diri, berpeluang untuk menjadikan anaknya berkepribadian yang asama dengan orang tuanya. Karena anak adalah peniru yang baik jadi prilaku apapun yang ditunjukan orang tua akan mereka ikuti.
-
- Adanya pengalaman buruk
Pengalaman yang menimpa diri anak akan memengaruhi perilaku anak. Anak yang memiliki pengalaman ditertawakan penonton saat berpidato di atas panggung akan membuat dia ragu-ragu atau bahkan enggan melakukannya lagi. Pengalaman buruk ini bisa membuat dia trauma akan kejadian yang sama sehingga lebih memilih tidak berbicara apa-apa daripada ditertawakan.
-
- Kurangnya kesempatan untuk sosialisasi
Jika anak kurang diberi kesempatan untuk bermain dengan teman-temannya, lebih banyak main di dalam rumah, kurang berinteraksi di luar, maka jangan heran ia akan menjadi pemalu, menarik diri, takut dan merasa cemas karena ruang geraknya terbatas hanya dengan anggota keluarga di rumah, maka orang lain selain keluarganya adalah sesuatu yang asing baginya
-
- Adanya perasaan rendah diri
Hal tersebut berkaitan dengan persepsi anak terhadap dirinya sendiri. Anak-anak harus punya perasaan yang baik terhadap dirinya. Anak yang merasa dicintai, disupport dan disayang oleh orang tua maka akan memiliki persepsi yang baik terhadap dirinya, tidak akan rendah diri dan tidak meragukan kemampuannya.
dari pendapat para ahli tadi dan hasil konfirmasi dengan orang tuanya dapat disimpulkan bahwa yang menyebabkan renata pendiam adalah faktor pengasuhan orang tua, serta proses belajar dari perilaku orang tua. Orang tua rena adalah pekerja yang waktunya sangat sedikit untuk dapat berinteraksi langsung dengan anaknya. Selain itu kedua orang tua rena dan kakaknya memiliki sifat yang sama yaitu seorang pendiam. Hal inilah seperti yang diungkapankan fitria bahwa anak akan cenderung mempelajari perilaku orang tua. Jika orang tuanya pendiam atau orang disekelilingnya pendiam maka besar kemungkinan anaknya juga menjadi seorang pendiam.
Pendiamnya rena ternyata berpengaruh terhadap prestasi belajar. Dari hasil pengamatan selama satu semester ganjil tahun pelajaran 2021/2022 prestasi belajar Rena berada dibawah sebagian besar teman-temannya. Hal ini menurut penulis diakibatkan karena sikap pemalu Rena yang menyebabkan dia tidak berani untuk bertanya apabila ada pelajaran yang belum dimengerti sehingga ketika dilakukan tes dia tidak bisa mengerjakan dan tentunya hal tersebut pastinya dapat membuat hasil belajarnya kurang baik.
Walaupun rena adalah anak yang pendiam, tapi dia adalah pengamat yang baik. Hampir setiap hari dia cerita kepada orang tuanya d rumah dengan detail apa yang dia kerjakan dan peristiwa apa yang terjadi di sekolah. Artinya Rena bisa menyampaikan sesuatu dan bisa merekam apa yang dia alami kepada mamanya hanya untuk bercerita kepada orang lain dia belum berani menyampa
DAFTAR PUSTAKA
Yusuf, S. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Sarjito, 2019. Mengatasi sikap Pemalu pada anak , Link
