Sebelum saya mengikuti Pendidikan guru penggerak, cara pandang saya terhadap murid dan pembelajaran sangatlah konvensional. Murid hanya dijadikan objek pembelajaran yang dibebani dengan target -target kurikulum.
Setelah saya mempelajari modul 1.1 ditambah dengan kegiatan ruang kolaborasi dan elaborasi pemahaman saya semakin mantap terkait dengan pembelaaran yang berpusat pada siswa. Siswa tidak hanya dijadikan sebagai objek pembelajaran tapi juga sebagai subjek pembelajaran. Pemikiran-pemikiran ki Hajar Dewantara tentang menuntun kekuatan kodrat alam dan zaman pada diri anak seakan menjadi cambuk bagi saya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi siswa. Pandangan pad aguru yang diistilahkan sebagai petani menyadarkan saya bahwa saya tidak bisa memaksa anak untuk tumbuh sesuai dnegan keinginan kita. Mereka akan tumbuh dengan kekuatan kodrati yang ada pada dirinya. Tugas kita sebagai guru hanya menuntut kekuatan kodrat itu agar murid tumbuh dna berkembang potensinya yang berguna natinya untuk dia sendiri dan lingkungan masyarakat di sekitarnya.
Cara pandang saya juga tentang budaya dan kaitannya dnegan pebelajaran membuat saya tersadar bahwa budaya adalah identitas diri dan bangsa. Budaya tidak bisa dihilangkan dalam Pendidikan. Budaya adalah kekuatan yang akan menjaga diri anak agar berprilaku sesuai denga kearifan local budaya Indonesia. Tapi tidak berarti menolak mentah -mentah budaya luar. Budaya luar kita pelajari sebagai bagian dari upaya menambah khazanah kita sebagai ornag yang berbudaya.
Satu pengalaman yang berharga yang belum saya dapatkan sebelumnya ada pada kegiatan elaborasi pemahaman. Kisah Ni Asti, putrinya KHD adalah kisah miris dari lahirnya Konsep Pendidikan yang berhamba pada anak. Ni Asti seakan menjadi “ tumbal” bagi lahirnya konsep Pendidikan yang memerdekakan untuk diterapkan saat ini oleh para orang tua dan guru.
Pada saat saya menerapkan konsep ini dalam aksi nyata di kelas, ada modal dan cara pandang yang berubah saat menghadapi beragam model karakter siswa. Biasanya saya marah jika ada siswa yang nyeleneh atau keluar topik pembahasan pembelajaran tapi setelah saya belajar modul ini walapun ada siswa yang seperti itu saya tetap menghargai dan tidak marah. Saya berikan apresiasi positif atas keberanian dia bertanya ,mengemukakan pendapat walaupun kurang nyambung.
Saya sekarang sering bertanya kepada siswa tentang topik yang dipelajari dengan kebutuhan dan kaitan dengan lingkungan. Dan juga mengajak mereka untuk selalu merefleksi pembelajaran yang dilakukan. Untuk kedepannya saya akan terus berproses semakin baik agar para siswa semakin terfasilitasi dan terpantik kekuatan potensi yang ada pada dirinya sehingga bisa mendapatkan sebuah proses pembelajaran yang bermakna.
