REFLEKSI Khd

Pendidikan dan pengajaran menurut pemikiran ki hajar Dewantara adalah  satu kesatuan yang masing-masing punya keterkaitan. Pengajaran adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran adalah proses menyalurkan ilmu untuk kecakapan anak yang berguna untuk diri anak baik  secara lahir mupun secara batin. Artinya ilmu tersebut adalah hal yang berguna baik untuk kehidupan lahiriyah serta aktifitas keseharian mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam aspek batiniah, ilmu tersebut haruslah berguna dalam memahami kebatinan seseorang artinya ilmu yang baik harus dapat membuat pengalaman yang berarti bagi siswa secara spiritual.

Pendidikan menurut KHD Pendidikan adalah tempat persemaian benih benih kebudayaan sehingga dengan Pendidikan seorang siswa akan memahami budaya mereka yang berakar pada adab. Seharusnya orang yang berpendidikan memiliki adab yang baik dalam kehidupannya. Pendidikan adalah ruang untuk melatih bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diwariskan.

Pendidikan dan pengajaran menurut KHD haruslah bertujuan menuntun. Pendidik harus dapat menuntun  potensi peserta didik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Menuntun kekuatan kodrat alam berarti seorang pendidik harus mampu menuntun potensi peserta didik sesuai dengan tempat mereka tinggal sehingga Pendidikan yang dia dapatkan berguna untuk dirinya dan masyarakat di sekitarnya yang memiliki adat dan budaya yang mungkin saja berbeda dengan teman dari daerah yang lain. Dalam hal kodrat zaman artinya seorang pendidik harus dapat menuntun potensi yang ada pada diri peserta didik untuk dapat menyesuaikan dengan kondisi kekinian atau bisa juga berkaitan dengan keterampilan abad 21.

Konsep pemikiran KHD dalam Pendidikan sangat relevan sekali dengan kondisi sekolah saya. Belum sepenuhnya konsep pemikiran yang disampaikan KHD  terimplementasi dengan baik di sekolah. Satu saja salam hal Pendidikan yang memerdekakan, rata-rata pendidik di sekolah saya (termasuk saya sendiri) masih menggunakan pendekatan nilai yang mengikat peserta didik. Artinya kemerdekaan siswa dalam memilih apa yang menjadi keinginannya serta menggali potensi dirinya sangat kurang terperhatikan, sehingga para peserta didik (mungkin saja) hanya mengikuti alur kurikulum yang ditentukan sekolah padahal mungkin bagi sebagian bukan yang mereka inginkan.

Sebelum mengikuti guru penggerak dan membaca modul ini saya merasa bahwa apa yang saya lakukan di kelas adalah yang paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan Pendidikan peserta didik. Tapi ternyata hal ini masih jauh dari harapan bapak Pendidikan Nasional (Ki Hajar Dewantara) lewat pemikiran-pemikiran filosofisnya dalam pendidikan. Saya jadi merasa apa yang saya lakukan selama ini masih jauh dari yang seharusnya saya lakukan dalam menuntun potensi peserta didik sesuai kondrat alam dan zaman. Dari sisi saya sebagai guru sampai saat ini saya masih terbelenggu dengan peraturan akademis sehingga ketuntasan materi menjadi tujuan ketika berhadapan dengan siswa. Dan sayapun merasa tidak ada kemerdekaan dalam mengeksplorasi dan menggali potensi peserta didik karena jika berbeda dengan yang lain ada anggapan bahwa saya menyalahi aturan. Sehingga arus itu masih saya ikuti. Selain itu beban tugas tambahan baik dari dinas maupun sekolah yang menumpuk menjadi problem yang menghalangi ruang saya untuk mengimplementasikan konsep bagaimana menjadi seorang guru yang merdeka dan memerdekakan siswa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *