Covid -19 (korona) yang kita alami 3 tahun yang lalu memberi dampak yang sangat luar biasa dalam berbagai aspek. Ekonomi, sosial, Budaya politik, pendidikan dan berbagai asepk lainnya termasuk cara hidup manusia yang berubah secara drastis. Sebelum covid, kita tidak mengenal istilah belajar dari rumah (BDR), Work From Home (WFH), meeting online dan lain-lain.
Dampak dari suasana covid ini juga secara langsung saya alami di keluarga saya terutama pada anak-anak saya. Yang paling merasakan dampak ini adalah anak saya yang kedua (hilya). Hilya lahir tahun 2019 dan seharusnya tahun 2020 itu adalah masa emas dia mengenal lingkungan, berinteraksi dengan orang lain, terbiasa dengan keramaian dan aktivitas sosial lainnya. Beda dengan kakaknya yang setiap saat mendapatkan haknya sebagai anak yang sedang berkembang.
Suasana covid yang menuntut saya berada di rumah, harusnya memberi banyak waktu untuk bisa berinteraksi dengannya. Namun karena kita dalam posisi menyesuaikan situasi dengan keadaan yang berubah mendadak itu, menyebabkan anak sendiri terabaikan. Hilya diurus sama bibi (pengasuh) di dalam rumah. sementara saya dan istri fokus menyesuaikan pembelajaran online pada waktu itu yang berjibaku dengan berbagai aplikasi baru di beranda depan rumah.
Sejak saat itu, Hilya selalu bersama dengan si bibi yang memang pendiam juga, menghabiskan waktu dirumah, karena memang pada saat itu kita semua dalam kondisi takut untuk keluar rumah. Istri masih ada kesempatan untuk berinteraksi dengan dia walau hanya sejenak. Sedangkan saya, saya akui memang sangat kurang berinteraksi dengan dia karen terlau fokus dengan laptop saya untuk mengajar dan belajar. mengikuti webinar dan training online ini dan itu.
Tahun 2021-2022 saya melihat ada kejanggalan dalam diri Hilya. Saya melihat pada usia dua menjelang tiga tahun ini biasanya kakaknya sudah aktif berinteraksi. Kosakata harusnya semakin banyak dan waktunya celemeng, (klo orang sunda bilang) walaupun dengan perbendaharaan kata yang masih terbatas. Namun Hilya agak lain, dia cenderung pendiam jarang sekali mengeluarkan kata-kata yang umumnya dikatakan anak seusianya. Peristiwa lain yang membuat saya tercengang adalah manakalah kita sudah diperbolehkan untuk keluar rumah dengan terbatas, anak ini cenderung takut jika dibawa ke tempat-tempat yang banyak orang berkumpul atau suasana rame. kalau dibawa ketempat tersebut dia langsung nangis. bermain dengan teman-teman seusianya di lingkungan juga tidak mau. Dia lebih senang malkukan aktivitas sendiri.
Dari beberapa kejadian yang dialami, saya dan istri berkesimpulan bahwa anak ini ada gangguan yang harus segera ditangani, baik yang berhubungan dengan kemampuan berbicara ataupun yang berkaitan dengan mental saat berinteraksi dengan orang lain. akhirnya kami memutuskan untuk membawa ke dokter anak dna hasilnya memang Hilya termasuk speech delay dan harus dilakukan terapi. Selain itu, kami juga memasukkan hilya ke daycare sekalian dengan adiknya agar terbiasa berinteraksi dengan teman-temannya. Awalnya dia introvert sekali, tidak mau gabung sam- teman- temanya, maunya hanya sama adiknya saja tapi alhamdulillah saat ini dengan tetap dititip di daycare dan melakukan terapi rutin, Hilya menunjukkan progress yang semakin baik. Interaksi dengan orang lain makin bagus, tidak takut sama orang lain, sering berbicara walaupun dengan kosakata yang masih belum sempurna banget tapi saya bersyukur karena dia sudah mulai menunjukkan perkembangan lebih baik.
Pelajaran dari peristiwa ini adalah sempatkanlah untuk berinteraksi dengan anak-anak kita setiap hari apalagi pada masa emas perkembangannya.
